screenshot_18

Tehnologi mobil serta ban bisa saja berkembang selalu seiring waktu berjalan. Berkendara juga bakal makin aman serta nyaman karenanya ada perkembangan tehnologi itu. Tetapi tak seseorangpun, atau tehnologi apa pun yang dapat melawan karakter alam.

Hal ini dapat berlaku untuk berkendara. Hujan yang bakal membasahi permukaan bumi bikin ingindara mesti ekstra hati-hati serta awas lantaran jalanan yang licin, serta genangan ada dimana-mana. Tehnologi ban mobil serta feature bantu keselamatan berkendara, semaju apa pun, akan tidak menanggung traksi tetaplah optimal di keadaan jalanan basah.

Berkendara hujan

Hal seperti ini menuntut kelihaian serta ketenangan sang pengemudi, untuk hindari terjadinya kecelakaan. Satu diantara aspek penyumbang kecelakaan, terlebih waktu permukaan jalan basah atau licin yaitu aquaplanning, atau umum dimaksud dengan juga hydroplanning.

Tanda-tanda ini nampak waktu ban tak dapat memberi cengkraman yang optimal karena ada suatu hal yang menghambat tapak ban untuk ‘bertemu’ dengan pemukaan jalan. Air di permukaan jalan yaitu suatu hal yang dapat mengkontribusikan hal itu.

Bila ingin dianalogikan, seperti orang yang terpeleset waktu jalan di jalanan berair atau licin. Bila jatuh rasa-rasanya tak enak, bukan?

Dampak Hydroplanning

Pernah rasakan mobil Anda berlaku lain waktu melewati genangan di kecepatan tinggi? Umpamanya kemudi yang merasa mendadak kosong, menarik ke satu segi, kecepatan mendadak menyusut, atau bahkan juga hilang kendali sekalipun serta semua dapat berbuntut pada kecelakaan. Tersebut yang dimaksud hydroplanning. Ban kehilangan traksi lantaran melindas air dalam keadaan yg tidak pas.

wasapada genangan air

Yang jadi pertanyaan yaitu, mengapa satu mobil dapat alami kecelakaan lantaran dampak hydroplanning? Jawabannya simpel tetapi bermacam. Dari segi mobil mungkin saja kecepatannya sangat tinggi waktu meraih genangan air, hingga tapak ban tak mampu memecah air dengan optimal. Ke-2, tapak ban memanglah telah menipis atau desakan angin tak pas, serta ketiga reaksi yg tidak pas dari sang pengemudi.

Umumnya yang paling akhir ini yaitu refleks alami seseorang manusia waktu mendeteksi suatu hal yg tidak beres serta punya potensi bahaya. Tetapi reaksi yang terlalu berlebih jadi bikin kondisi semakin kacau. Ingat, ini keadaan di mana ban tengah kehilangan kontak dengan permukaan jalan.

Siapa Yang Punya potensi Terserang Hydroplanning?

Semuanya kendaraan. Namun ada banyak hal yang paling utama. Pertama yaitu bobot mobil. Makin berat bakal makin bikin mobil tertekan ke bawah, serta ban dapat kontak dengan jalan dengan cara optimal. Tetapi pertimbangkan juga lebar ban, makin lebar, umumnya bakal makin susah untuk terserang dampak itu.

hilang traksi

Namun lebar ban saja belum cukup. Kecepatan mesti dijaga tidak untuk beralih dengan cara mendadak. Diluar itu, tapak ban mesti ada di keadaan yang masihlah normal. Semua bakal sia-sia bila ban gundul. Hal yang lain yaitu, mobil yang berkendara dengan cruise control, semakin lebih rawan terserang dampak hydroplanning.

Cruise control, seperti yang kita kenali, berperan untuk melindungi kecepatan tetaplah stabil. Waktu di rasa kecepatan alami penurunan atau bakal jadi tambah, feature ini bakal memberi gas atau mengerem dengan sendirinya. Nah, waktu berlangsung hydroplanning, kecepatan bakal alami penurunan, serta computer memerintahkan untuk berakselerasi dengan cara automatis. Dampaknya? Ban semakin kehilangan traksi.

Bagaimana Hindari Hydroplanning?

Jagalah kecepatan
Teliti senantiasa keadaan ban, baik desakan ataupun keadaan tapaknya
Cermati genangan air, sekecil apapun
Matikan cruise control waktu cuaca hujan
Bila sangat mungkin, pada jalan satu arah yang mempunyai kian lebih satu lajur (jalan tol umpamanya) jauhi segi jalan yang lebih rendah. Air bakal berkumpul di titik paling rendah satu bagian.
Angkat kaki dari pedal gas waktu merasa mobil jadi aneh waktu melalui genangan air
Janganlah injak rem dengan keras, lantaran dapat bikin ban makin kehilangan grip
Pegang kuat-kuat lingkar kemudi, dalam keadaan lurus. Janganlah bermanuver waktu hydroplanning.

 

Sumber: https://www.oto.com