Screenshot_21

CALIFORNIA — Irritable Bowel Syndrome (IBS) yaitu satu diantara masalah yang berlangsung pada system pencernaan. Masalah ini menyerang usus besar, tepatnya keadaan abnormal yang berlangsung waktu otot di usus besar berkontraksi untuk mendorong sisa hasil pencernaan.

Penyakit ini umumnya ditandai dengan sakit perut, kram perut, sembelit, serta diare. Tetapi, beberapa gejala ini umumnya hilang waktu pasien IBS usai buang air besar. Meski demikian, IBS belum seutuhnya hilang. Bila tak diakukan dengan pas, IBS mungkin saja hilang serta muncul sepanjang berbulan-bulan sampai bertahun-tahun.

Beberapa besar pasien IBS alami tanda-tanda ini mulai sejak umur 20 sampai 30 th.. Penyakit ini juga memengaruhi 10 sampai 15 orang dari 100 orang. Umumnya, perempuan lebih rawan terserang IBS. Sampai sekarang ini, pihak kedokteran belum dapat meyakinkan dengan cara tentu penyebabnya timbulnya IBS.

Tetapi, beberapa dokter memiliki pendapat, rasa nyeri di IBS ini dikarenakan ada keterikatan pada mikroba di usus besar dengan system saraf di otak. Bahkan juga, dalam riset paling baru dijelaskan, trauma saat kecil juga bertindak berkaitan bagaimana mikroba di usus besar berhubungan dengan system saraf di otak.

Hal semacam ini memberikan ada jalinan pada perubahan system saraf manusia dengan mikroba yang ada di system pencernaan. Emran Mayer dari Kampus California, Los Angeles, Amerika Serikat, sudah lakukan riset berkaitan hal semacam ini sepanjang bertahun-tahun.

”Menemukan pergantian susunan otak, baik primer maupun sekunder, akibat tanda-tanda gastrointestinal, memberikan ada komponen ‘organik’ ke IBS serta mensupport rencana ada masalah dalam jalinan pada otak serta usus besar, ” papar Emran seperti diambil laman Sciencealert.

Sekarang ini, Emran serta timnya temukan, type mikroba spesifik nyatanya bisa dihubungkan dengan pergantian susunan otak. Juga dengan pengalaman atas peristiwa traumatis pada saat anak-anak. Riset ini dikerjakan dengan menggabungkan pelajari behavioral dengan tes klinis dengan 29 orang sehat sebagai variabel pengontrol.

Lalu, Emran serta timnya lakukan pengelompokan pada pasien IBS berdasar pada type mikroba atau bakteri yang diketemukan di usus besar mereka. Pada akhirnya, tim peneliti tak dapat temukan jalinan pada type mikroba dengan tanda-tanda IBS yang muncul.

Menariknya, tim peneliti temukan, ada ketidaksamaan yang khusus dalam susunan otak didalam sub group pasien IBS itu. Sisi otak yang berkaitan sensor pengindraan tampak semakin besar pada pasien IBS. Diluar itu, tim peneliti juga lakukan serangkain tes psikologis, yakni Early Traumatic Inventory, pada pasien IBS. Akhirnya, beberapa pasien IBS mempunyai tingkat emosi yang lebih tinggi di banding group, yang diisi orang sehat.

”Meski butuh riset penambahan, namun ada panduan, pengalaman traumatis yang berlangsung pada saat kecil bisa memengaruhi susunan otak, lalu bisa memengaruhi type mikroba yang berkembang di usus besar, ” papar Emran.

sumber : REPUBLIKA. CO. ID,