Ikan Buaya di Waduk Jatiluhur

Alligator gar atau biasa disebut ikan buaya merupakan ikan tawar raksasa dengan bentuk kepala seperti buaya. Untuk mencapai tubuh dewasa, dibutuhkan waktu puluhan tahun. Dagingnya aman untuk dikonsumsi tapi telurnya sangat beracun bagi manusia, hewan dan unggas. Ikan ini tergolong hewan purba. Tubuhnya panjang silindris berkepala menyerupai buaya. Ekornya lebar membundar dan terdapat dua sirip di punggung serta bagian bawah tubuh dekat ekor. Ada dua sirip bawah lainnya, yang satu di bagian tengah tubuh dan lainnya lebih dekat ke kepala. Moncongnya pendek, kuat dan besar. Sebagai predator, ikan ini terkenal rakus, itu sebabnya melepas ikan buaya sembarangan dapat menuai bencana. Ikan Buaya di Waduk Jatiluhur sangat meresahkan warga.

ikan buaya di waduk jatiluhur

Para petambak dan nelayan disana dikejutkan oleh penampakan ikan buaya yang berkeliaran di sekitar keramba dan memangsa ikan yang dibudidayakan penduduk sekitar. Ikan buaya di Waduk Jatiluhur berbahaya karena dapat merusak sumber daya perairan. Ikan jenis ini memangsa ikan jenis lain yang berukuran lebih kecil, sehingga akan berdampak pada berkurangnya ikan tangkapan warga, misalnya ikan emas dan nila. Padahal, ada banyak nelayan perairan umum yang menggantungkan hidupnya dari Waduk Jatiluhur. Ada beberapa alasan ikan buaya ini mampu hidup di Indonesia, antara lain:

  1. Kemampuan adaptasi

Ikan-ikan yang berasal dari negara lain dapat hidup di Indonesia dengan cara adaptasi dan kemudian berkembang biak

  1. Dibudidayakan

Ikan buaya ini banyak dibudidayakan oleh orang Indonesia sebagai ikan hias

  1. Stok makanan berlimpah

Beberapa jenis ikan karnivora dilarang dibudidayakan di perairan umum, termasuk jenis ikan buaya. Ikan buaya mampu hidup dan berkembang biak sampai sekarang karena stok makanan berlimpah seperti di Waduk Jatiluhur

  1. Iklim di Amazon mirip dengan di Indonesia

Hutan hujan tropis amazon di bagian benua Amerika Selatan dikenal sebagai habitat asli ikan buaya. Hutan amazon memiliki kondisi iklim yang mirip dengan wilayah Indonesia, misalnya hutan Kalimantan. Begitu juga dengan beberapa satwa, ada beberapa jenis satwa yang sama-sama menghuni dua wilayah tropis ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *